Setelah bertemu dengan Uskup Carlos F. X. Belo SDB (Uskup Keuskupan Dili) bersama Sr. Josefa PRR, Sr. Rosalina pergi ke tempat yang ditawarkan oleh uskup, yaitu Ossú, di wilayah timur, yang pada saat itu sangat tidak aman dan sangat membutuhkan belas kasihan Tuhan untuk merawat anak-anak di panti asuhan serta asrama putra dan putri dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Melihat kondisi anak-anak yang membutuhkan bimbingan, Sr. Rosalina tergerak oleh belas kasihan dan mengirimkan para suster SCMM untuk mendampingi anak-anak di panti asuhan yang telah kehilangan orang tua/kerabat serta anak-anak di asrama St. Yosef. Maka, pada tanggal 11 November 1989, dua suster SCMM dikirim untuk memulai karya belas kasih ini. Kedua pelopor tersebut adalah Sr. Hermin Bu’ulölö sebagai pemimpin Komunitas sekaligus guru di sekolah menengah pertama, dan Sr. Lusia Telaumbanua sebagai pemimpin asrama dan panti asuhan. Dengan kehadiran kedua Suster ini, anak-anak merasa aman, seolah-olah terbebas dari ketakutan akan preman yang turun dari pegunungan setiap malam ke asrama untuk mencari makanan.
Pertumbuhan dan perkembangan
Kehadiran Suster-suster Cinta Kasih dari Maria Bunda yang Berbelaskasih membawa perubahan bagi komunitas yang mayoritas beragama Katolik. Jumlah anak laki-laki dan perempuan di asrama meningkat pesat, hingga mencapai 100 orang. Asrama tersebut milik paroki di bawah naungan Yayasan St. Yosef. Di luar jam sekolah, anak-anak di asrama berkebun dan beternak, dan hasil dari kegiatan tersebut digunakan untuk membiayai uang sekolah mereka. Mereka bekerja keras dengan penuh belas kasih, membangun kesejahteraan fisik, mental, dan spiritual anak-anak. Ketulusan dan kesabaran para suster membuat mereka mendapat banyak simpati dari pemerintah setempat dan para donatur baik dalam maupun luar negeri, terutama dari Kongregasi SCMM. Bangunan asrama, yang sempat rusak parah akibat perang, direnovasi dan dilengkapi dengan kamar mandi, pipa air, pasokan air bersih, serta tempat tidur dengan kelambu.
Jumlah anggota komunitas SCMM terus bertambah setiap tahun. Para suster menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat setempat, dan bahkan dalam waktu yang relatif singkat, mereka sudah menguasai bahasa setempat. Pada tanggal 1 November 1991, asrama putra dan putri serta panti asuhan secara resmi diserahkan kepada SCMM, yang memiliki Yayasan Belaskasihan. Berkat kemurahan hati Tuhan, kehadiran para suster SCMM di Ossu telah menarik minat para remaja putri dari Timor Leste untuk bergabung dengan Kongregasi SCMM.
Perang Membawa Perkembangan
Sebelum dan sesudah referendum pada 30 Agustus 1999, gejolak politik terasa menakutkan dan mencekam. Setelah kemerdekaan diproklamasikan pada 4 September 1999, bentrokan antara kelompok pro-kemerdekaan dan anti-kemerdekaan pun meletus. Suara tembakan dan asap kebakaran di mana-mana semakin memperparah suasana yang mencekam. Penjarahan, pembakaran, dan pembunuhan terjadi di mana-mana. Banyak nyawa tak bersalah yang hilang dan mereka yang selamat dianiaya. Orang-orang tak bersalah terpaksa melarikan diri ke hutan. Suasana tegang itu menyebar ke Ossu, sebuah daerah yang agak terpencil. Pada 14 September 1999, para suster terpaksa melarikan diri dan mencari perlindungan di hutan belantara, bersama dengan anak-anak dari asrama dan panti asuhan, tidur di bawah langit terbuka dan hanya terlindung dari angin. Pada tanggal 16 September 1999, dengan bantuan Tentara Falentil, kami kembali ke Ossu dengan selamat.
Setelah merdeka, Timor-Leste menjadi negara merdeka dengan sistem pemerintahan, mata uang, dan bahasa resmi sendiri. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi para suster dari Timor-Leste, terutama mereka yang sedang menjalani pembinaan di Indonesia. Mereka harus mengurus paspor dan visa jika ingin tinggal di Indonesia serta harus belajar bahasa Indonesia. Dewan Umum memahami kesulitan-kesulitan tersebut. Oleh karena itu, pada tanggal 2 Februari 2016, Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih dari Maria Bunda yang Berbelaskasih di Timor-Leste secara resmi memisahkan diri dari Provinsi Indonesia dengan status sebagai komunitas independen di bawah pengawasan Dewan Umum, dengan Sr. Gemma Belo sebagai koordinator pertama. Dewan Umum menyetujui Timor-Leste sebagai sebuah Regio pada tanggal 20 Maret 2024, dengan Tim Regio sebagai berikut:
Pemimpin Regio : Sr. Eugenia Pereira
Wakil Regional : Sr. Joanita Freitas
Anggota Tim : Sr. Serafina da Costa Pereira
Anggota Tim : Sr. Natalia de Deus Maia
Anggota Tim : Sr. Esmenia Sanches da Silva
Karya para suster di Timor Leste kini semakin berkembang. Para suster telah memiliki empat komunitas, yaitu: Komunitas St. Lukas di Ossu, Komunitas St. Yohanes di Akadiruhun, Rumah Pembinaan dan Komunitas Dom Joannes Zwijsen di Manleuana, serta Komunitas St. Gemma di Luca. Kehadiran para suster di beberapa tempat masih sangat dinantikan oleh umat, namun para suster perlu terus meningkatkan diri dalam menanggapi panggilan misi ini agar pelayanan kami yang sederhana dan penuh belas kasih dapat dirasakan oleh mereka yang kami layani, terutama kaum miskin dan terpinggirkan.