Logo Sisters of Charity of our Lady Mother of Mercy - SCMM

Sisters of Charity

of our Lady Mother of Mercy

Sejarah Indonesia

Sejarah SCMM

Para suster memulai karya mereka di Padang dengan mendirikan sebuah taman kanak-kanak pada tanggal 1 September 1885. Dalam waktu singkat, jumlah murid meningkat dari 35 menjadi 140. Selain memberikan pendidikan dasar, para suster fokus pada pengembangan karakter dan pembinaan keterampilan. Untuk itu, mereka menawarkan kursus menjahit, merajut, menyulam, dan piano. Mereka juga mendirikan panti asuhan, asrama putri, serta pelayanan bagi mereka yang membutuhkan.

Setelah misi di Padang didirikan, para suster melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah lain. Pada tahun 1890, misi SCMM tiba di Flores, khususnya di Maumere. Di sana, mereka fokus pada pendidikan dan kesehatan. Seiring berjalannya waktu, mereka menghadapi berbagai kesulitan, termasuk wabah malaria yang merenggut nyawa para suster maupun para siswa. Meskipun demikian, para suster tetap melayani dengan penuh kasih, percaya pada penyelenggaraan ilahi.

Pada tahun 1917, para suster memulai karya mereka di Tanjung Sakti, Sumatera Barat. Di sana, para suster mengelola sebuah sekolah, asrama putri, serta kursus keterampilan bagi para remaja putri dan ibu rumah tangga. Mereka juga menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat sekitar. Namun, karena berbagai kesulitan dan kondisi kesehatan para suster yang semakin menurun, Dewan Umum memutuskan untuk menghentikan karya di Tanjung Sakti pada tahun 1930. Meskipun demikian, semangat pelayanan mereka tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 1930, atas undangan Pastor Spanyers, OFMCap, para suster SCMM memulai karya mereka di Sibolga. Di sana, mereka mendirikan taman kanak-kanak dan sekolah dasar, asrama putra dan putri, serta biara dengan nama pelindung Hati Kudus.

Mereka menghadapi banyak tantangan sepanjang waktu, terutama selama masa Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942 hingga 1945. Para suster mengalami masa-masa tersulit mereka selama periode ini. Empat puluh suster asal Eropa ditangkap dan dipindahkan ke berbagai pusat tahanan. Sebagian meninggal dalam penahanan, sementara yang lain kembali ke Belanda setelah perang berakhir dalam kondisi yang terguncang secara fisik dan mental. Meskipun di tengah ketakutan dan penderitaan, 18 suster tetap tinggal di Indonesia dan melanjutkan pelayanan mereka.

Pilihan bagi Kaum Miskin: Arah Baru dalam Pelayanan Misi

Sejak kongregasi ini didirikan, tujuan utama Suster-suster Cinta Kasih dari Maria Bunda yang Berbelaskasih (SCMM) adalah untuk mendampingi mereka yang lemah, miskin, dan tertindas. Semangat ini berakar pada kasih Allah, yang menggerakkan hati para pendiri kongregasi untuk menunjukkan belas kasih di tengah penderitaan manusia. Oleh karena itu, setelah Indonesia merdeka, semangat pelayanan yang penuh belas kasih ini terus dilanjutkan. Pada tahun 1949, setelah masa-masa sulit perang dan kolonialisme berakhir, para suster mulai membangun kembali karya pendidikannya di Sibolga, Sumatera Utara. Pelayanan ini mendapat dukungan besar dari pemerintah, yang melihat bahwa kehadiran SCMM bukan hanya sekadar mengajar, tetapi juga membentuk manusia yang penuh belas kasih, jujur, dan peduli. Tak lama kemudian, Sekolah Menengah Pertama Fatima, Sekolah Menengah Atas Katolik, dan asrama didirikan.

Para suster mengelola berbagai sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, yang berfungsi sebagai tempat untuk membentuk generasi yang beriman dan individu yang berkarakter. Di bidang kesehatan, mereka melayani dengan penuh kasih melalui klinik-klinik umum dan rumah sakit. Sementara itu, dalam bidang sosial dan pastoral, SCMM hadir melalui asrama, panti asuhan, dan panti jompo, menjangkau mereka yang terpinggirkan dan membutuhkan bantuan.

Semua karya ini berpusat pada semangat asli kongregasi untuk membawa kasih Tuhan kepada mereka yang paling lemah dan paling menderita. Para suster tidak hanya berupaya membantu, tetapi juga mendampingi orang-orang miskin dan tertindas sebagai sahabat, pemberi penghiburan, dan sumber harapan.

Kini, setelah lebih dari satu abad berkarya di Indonesia, para Suster SCMM terus menjalankan misi kasih ini dengan penuh kesetiaan. Di tengah perubahan zaman, mereka tetap menjadi tanda kehadiran Allah yang hidup, menyentuh jiwa-jiwa yang terluka, menyalakan harapan di tempat-tempat yang gelap, dan membawa kasih yang memberi kehidupan bagi semua orang.

Kehadiran yang Mengubah

Pada tahun 1975, Kongregasi ini secara resmi menjadi Provinsi. Sr. Elisabeth Saribatin, SCMM, seorang suster asal Indonesia, terpilih sebagai Provinsial pertama di Indonesia. Kehadiran Kongregasi SCMM terus berkembang, baik dari segi jumlah anggota maupun perluasan pelayanannya ke berbagai bidang dan wilayah. Hingga saat ini, terdapat 28 komunitas SCMM yang tersebar di hampir seluruh penjuru Indonesia, mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jakarta, Yogyakarta, Kalimantan, Maumere, hingga Sumba. Para suster tidak berpuas diri. Di era modern saat ini, banyak orang mengalami masalah kesehatan mental akibat berbagai faktor dalam kehidupan mereka. Para suster melihat hal ini sebagai peluang dan panggilan untuk menyelamatkan serta menyembuhkan mereka melalui konseling psikologis.

Para Suster kami juga memperhatikan pelestarian bumi sebagai bentuk tanggung jawab ekologis. Ada gerakan bersama untuk berperan aktif dalam merawat bumi, salah satunya dengan memanfaatkan limbah menjadi enzim ramah lingkungan. Para Suster juga terlibat dan berjuang untuk hak asasi manusia, mengingat banyaknya individu dan kelompok yang hak-haknya terancam. Upaya-upaya ini dirangkum dan diperkuat melalui sebuah panduan khusus (PDDAR) yang disusun oleh para Suster. Kehadiran para Suster SCMM di Indonesia merupakan perwujudan nyata dari kasih Tuhan. Mereka tetap setia dalam pelayanan mereka hingga hari ini, meskipun telah menghadapi banyak tantangan dan rintangan sepanjang perjalanan pelayanan mereka.

Situs web ini telah diterjemahkan sebagian menggunakan Deepl

Kebijakan Perlindungan